Interpretasi Terhadap Peta Rawan Bencana BNPB

Assalamu’alaikum, salam selamat untuk pembaca sekalian.

Bulan ini, BNPB telah merilis laporan bulanan untuk bulan Juni tahun 2014.  Laporan ini berisi tentang fenomena kejadian bencana yang terjadi di Indonesia. Sebelumnya, semoga para korban bencana mari kita doakan agar tabah dan segera dipulihkan kondisinya oleh Tuhan. Terima kasih pada BNPB dan segala pihak yang telah membantu para korban dalam kejadian bencana apapun.

Di luar hal tersebut di atas, saya cukup tertarik juga dengan adanya peta kejadian bencana yang dirilis BNPB untuk laporan bulan Juni tahun ini. Di dalam peta tersebut, sebagai satu-satunya peta yang dimunculkan dalam laporan itu, ditampilkan overlay antara peta frekuensi kejadian bencana (umum) dan peta multiresiko bencana Indonesia. Saya melihat informasi yang tertuang pada peta ini seharusnya dapat dimaksimalkan, salah satunya pada peta frekuensi kejadian bencana yang seharusnya dapat disampaikan lebih terperinci antara perbandingan seluruh bencana yang dijelaskan dengan model grafik pie yang sama tapi penambahan informasi seluruh bencana yang teramati.

info_bencana_Juni_2014 - BNPB

info_bencana_Juni_2014 – BNPB

Kemudian selain hal yang saya sampaikan di atas, informasi mengenai peta multirisiko bencana di Indonesia juga menarik diamati. Jujur saya belum jauh melihat paramater / variabel yang dipergunakan untuk menyusun peta ini. Namun secara spasial, sebaran multirisiko cenderung lebih tinggi berada di bagian timur Indonesia (ditunjukkan dengan warna peta yang semakin gelap / merah). Secara logika, pemetaan multirisiko ini baiknya dibuat untuk “menduga” kejadian bencana yang akan muncul, atau paling tidak dapat menggambarkan kecenderungan fenomena yang terjadi dengan prediksi yang disampaikan oleh peta / data spasial ini (berpola sejajar dalam jumlah / kuantitatif).

Namun, kejadian dalam peta di atas tertuang informasi bahwa bencana mayoritas ada di bagian barat Indonesia. Fenomena dalam peta juga menonjolkan bahwasanya Jawa menunjukkan kejadian bencana paling besar di Indonesia sedangkan Kalimantan Barat dan juga seluruh provinsi di Papua tidak terjadi adanya kejadian bencana.

Hal ini membuat saya pribadi berfikir pada empat hal. Tanpa bermaksud ber-negative thinking, pertama media penyampaian informasi hanya lancar pada lokasi dengan informasi bencana yang banyak. Kedua, tim yang siap siaga dan tersedia hanya tersebar di beberapa lokasi dengan informasi bencana banyak. Ketiga, faktualnya masyarakat Indonesia hanya memadati wilayah dengan informasi bencana yang banyak sesuai peta di atas. Keempat, terdapat kekurang tepatan penyusunan parameter / variabel yang menjadi unsur bentukan peta / data spasial multirisiko bencana se-Indonesia.

Semoga menjadi tambahan wawasan, sekali lagi tanpa ada maksud negative thinking.

NB. Sumber : BNPB by Twitter

Wassalamu’alaikum

 

-Ibni Sabil-

GIS Specialist of Line House Production

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s